sustainabilitypioneers – Transisi energi terhambat di Indonesia, meski terdapat potensi besar dalam energi terbarukan yang mencapai 333 gigawatt (GW). Potensi ini berasal dari sumber energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), tenaga bayu (PLTB), dan minihidro (PLTM). Namun, meskipun potensi tersebut sangat besar, pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia masih jauh dari optimal. Hal ini menjadi salah satu tantangan besar dalam mewujudkan target transisi energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
Institute for Essential Services Reform (IESR) mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, mencapai 333 GW. Potensi ini berasal dari berbagai sumber, seperti PLTS daratan, PLTB daratan, dan PLTM. Namun, pemanfaatan energi terbarukan ini masih terhambat oleh berbagai faktor, termasuk infrastruktur yang belum memadai dan hambatan dalam regulasi.
Deon Arinaldo, Manajer Program Transformasi Sistem Energi IESR, menyatakan bahwa meskipun Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang sangat besar, pemanfaatannya masih minim. Potensi teknis energi terbarukan Indonesia bahkan mencapai lebih dari 3.700 GW, namun realitas pemanfaatannya jauh dari angka tersebut. “Tentu saja ada kontradiksi dengan realitas pemanfaatan energi terbarukan di Indonesia,” ujarnya dalam keterangan pers.
“Baca juga: Transformasi Energi dengan Smart Grid: Meningkatkan Efisiensi dan Mengurangi Pemborosan”
Potensi energi terbarukan Indonesia sangat beragam. Dari total 333 GW, 167 GW berasal dari PLTB daratan (onshore), sedangkan 165,9 GW berasal dari PLTS daratan (ground-mounted), dan sisanya, yaitu 0,7 GW, berasal dari PLTM. Potensi ini didasarkan pada simulasi finansial dan skema public-private partnership di sekitar 1.500 lokasi yang memenuhi syarat teknis.
Pintoko Aji, Koordinator Riset Kelompok Data dan Pemodelan IESR, menambahkan bahwa sekitar 61 persen dari total potensi ini (205,9 GW) memiliki tingkat pengembalian investasi (EIRR) di atas 10 persen. Hal ini menunjukkan bahwa energi terbarukan di Indonesia memiliki potensi investasi yang sangat menarik. “Sumber daya minihidro banyak ditemukan di Sumatera, sementara potensi tenaga angin terbesar ada di Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua,” kata Pintoko.
Salah satu tantangan terbesar dalam memanfaatkan potensi energi terbarukan adalah pengembangan infrastruktur, terutama dalam hal transmisi dan distribusi energi. IESR mengingatkan bahwa pengembangan infrastruktur jaringan listrik sangat penting untuk merealisasikan potensi energi terbarukan yang besar ini. Pengembangan gardu induk dan transmisi listrik harus menjadi prioritas untuk memastikan energi yang dihasilkan bisa sampai ke konsumen dengan efisien.
IESR juga mengusulkan agar pemerintah mengalokasikan penggunaan lahan untuk energi terbarukan dalam tata ruang daerah. Selain itu, proses pengadaan lahan juga harus disederhanakan untuk mengurangi risiko investasi. Dengan adanya kebijakan yang lebih jelas, sektor swasta bisa lebih tertarik untuk berinvestasi dalam pengembangan energi terbarukan.
Peran PT PLN (Persero) dalam transisi energi sangat krusial. PLN diminta untuk menyusun perencanaan dan ekspansi jaringan listrik ke lokasi-lokasi dengan potensi energi terbarukan yang tinggi. Ini akan mempermudah distribusi energi terbarukan ke berbagai daerah dan mendukung pencapaian target bauran energi terbarukan di Indonesia. PLN juga perlu melakukan reformasi dalam mekanisme pengadaan energi terbarukan untuk mempercepat proses transisi energi.
“Simak juga: Mendukung UMKM Ramah Lingkungan: BI Bali Perkuat Inovasi Berkelanjutan”
Energi surya (PLTS) dipandang sebagai salah satu solusi utama dalam transisi energi Indonesia. Ketua Pakar Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI), Herman Darnel Ibrahim, menegaskan bahwa teknologi energi surya sudah semakin matang dan kompetitif. “Pengembangan teknologi energi surya saat ini sudah matang dan semakin kompetitif, terutama dibandingkan dengan pembangkit tenaga nuklir maupun gas,” ujarnya.
Energi surya memiliki potensi besar di Indonesia, terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Dengan harga yang semakin terjangkau dan efisiensi yang semakin baik, energi surya bisa menjadi solusi utama dalam mengurangi ketergantungan Indonesia pada energi fosil. Oleh karena itu, pengembangan PLTS harus menjadi prioritas dalam transisi energi Indonesia.
Indonesia berkomitmen untuk mencapai net zero emission (NZE) pada 2060 atau lebih cepat. Salah satu langkah penting menuju tujuan ini adalah pengembangan energi terbarukan. Pada 2022, Indonesia menandatangani kesepakatan Just Energy Transition Partnership (JETP) senilai 20 miliar dolar AS. Salah satu target utama dari kesepakatan ini adalah mencapai puncak emisi 290 juta ton CO2 dan bauran energi terbarukan sebesar 34 persen pada 2030.
Untuk mencapai target ini, Indonesia harus mempercepat transisi energi dan memanfaatkan sepenuhnya potensi energi terbarukan yang ada. Hal ini akan membutuhkan dukungan dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat untuk mengoptimalkan infrastruktur, kebijakan, dan investasi yang diperlukan.
sustainabilitypioneers – Energi Thermoelektrik adalah teknologi yang dapat mengubah perbedaan suhu menjadi listrik. Konsep ini berfokus pada pemanfaatan panas yang ada…
sustainabilitypioneers – Pembangkit listrik biomassa menjadi salah satu solusi inovatif untuk menghasilkan energi ramah lingkungan. Menggunakan limbah organik, teknologi ini…
sustainabilitypioneers – Sistem pengumpulan air hujan semakin populer sebagai solusi ramah lingkungan dan hemat biaya. Dengan sistem ini, air hujan yang…
sustainabilitypioneers – Revolusi energi terdesentralisasi telah mengubah cara kita melihat dan menggunakan energi. Sistem energi terdistribusi menjadi solusi yang semakin populer…
sustainabilitypioneers – Kemenperin gelar AIGIS 2025 sebagai upaya mendorong pengembangan ekosistem industri hijau di Indonesia. Acara ini bertujuan untuk mendukung pertumbuhan…
sustainabilitypioneers – Solusi inovasi hijau menjadi kunci untuk menciptakan dunia yang lebih bersih dan sehat. Saat ini, planet kita menghadapi masalah…