
Sustainability Pioneers – Percepatan perbandingan kebijakan transisi energi di negara ASEAN kini menjadi sorotan karena kawasan ini berhadapan dengan lonjakan permintaan listrik sekaligus komitmen pengurangan emisi. Setiap negara mengadopsi strategi berbeda, mulai dari insentif energi terbarukan, penghentian bertahap PLTU batubara, hingga integrasi pasar listrik regional.
Kawasan Asia Tenggara tumbuh sebagai salah satu pusat konsumsi energi tercepat di dunia. Dalam konteks itu, perbandingan kebijakan transisi energi menunjukkan variasi ambisi dan kapasitas antarnegara. Indonesia, Vietnam, Thailand, Malaysia, dan Filipina menargetkan porsi energi terbarukan yang semakin besar, sementara Singapura fokus pada efisiensi dan impor listrik rendah karbon.
Banyak negara ASEAN telah menyampaikan komitmen net zero pada pertengahan abad. Namun, jalur pencapaiannya tidak seragam. Sebagian masih mengandalkan batubara dan gas untuk menjaga keandalan sistem, sementara yang lain mulai agresif mengembangkan tenaga surya, angin, dan panas bumi. Karena itu, memahami perbandingan kebijakan transisi energi membantu memetakan peluang kolaborasi dan celah kebijakan.
Target net zero menjadi fondasi kebijakan di hampir seluruh ASEAN. Indonesia, misalnya, mengumumkan tujuan mencapai net zero sekitar 2060 atau lebih cepat, dengan rencana menghentikan operasi PLTU batubara secara bertahap. Di Vietnam, perluasan energi surya dan angin lepas pantai mendorong revisi rencana pengembangan listrik jangka panjang.
Thailand dan Malaysia menetapkan sasaran bauran energi terbarukan yang cukup ambisius dalam rencana energi nasional mereka. Sementara itu, Filipina berupaya mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil dengan mempercepat pembangunan pembangkit energi bersih berbasis tenaga angin dan surya. Perbandingan kebijakan transisi energi pada aspek ini memperlihatkan bahwa negara dengan potensi sumber daya tinggi cenderung berani memasang target EBT yang lebih besar.
Di sisi lain, Singapura menghadapi keterbatasan lahan dan sumber daya alam, sehingga strategi utamanya adalah impor listrik rendah karbon, peningkatan efisiensi energi, serta investasi pada teknologi seperti hidrogen rendah karbon dan penyimpanan energi. Meski begitu, komitmennya untuk mengurangi intensitas emisi tetap kuat.
Selain target, instrumen regulasi menjadi pembeda utama dalam perbandingan kebijakan transisi energi. Beberapa negara mengadopsi feed-in tariff atau skema harga khusus untuk pembangkit energi terbarukan, sementara yang lain beralih ke skema lelang kompetitif untuk menekan biaya.
Vietnam pernah mengalami lonjakan pemasangan PLTS atap dan skala besar berkat feed-in tariff yang menarik, meski kemudian perlu penyesuaian untuk menyeimbangkan beban sistem. Indonesia kini memperkuat regulasi terkait PLTS atap, pembangkit hijau untuk kawasan industri, dan mekanisme perdagangan karbon di sektor tenaga listrik.
Thailand dan Malaysia mendorong investasi melalui paket insentif fiskal, seperti pembebasan atau pengurangan pajak untuk proyek energi bersih. Filipina menyiapkan kerangka hukum yang lebih jelas untuk proyek angin lepas pantai dan energi laut. Di seluruh kawasan, perbandingan kebijakan transisi energi pada level investasi menunjukkan persaingan menarik untuk menarik modal internasional.
Baca Juga: Laporan outlook energi Asia Tenggara dari IEA
Batubara masih memainkan peran besar dalam sistem listrik beberapa negara ASEAN. Indonesia dan Vietnam memiliki kapasitas PLTU signifikan, sementara Filipina juga masih mengandalkan pembangkit batubara untuk memenuhi kebutuhan listrik. Karena itu, kebijakan penghentian bertahap batubara menjadi aspek krusial dalam perbandingan kebijakan transisi energi.
Beragam inisiatif muncul, mulai dari skema pembiayaan transisi seperti Just Energy Transition Partnership (JETP) hingga rencana pensiun dini PLTU tertentu. Namun, implementasinya menghadapi tantangan berupa kontrak jangka panjang, kebutuhan kompensasi, dan kekhawatiran terhadap stabilitas listrik.
Gas alam sering diposisikan sebagai bahan bakar peralihan. Beberapa negara merencanakan penambahan pembangkit berbasis gas untuk menggantikan batubara jangka pendek. Meski intensitas emisinya lebih rendah, ketergantungan pada gas impor menimbulkan risiko harga dan pasokan. Di sisi lain, eksplorasi biometana dan hidrogen hijau mulai diperhitungkan sebagai opsi jangka panjang.
Salah satu perbedaan menarik dalam perbandingan kebijakan transisi energi di ASEAN adalah pendekatan terhadap integrasi sistem dan perdagangan listrik lintas batas. Inisiatif ASEAN Power Grid bertujuan menghubungkan sistem kelistrikan negara-negara di kawasan untuk memungkinkan penyaluran energi terbarukan dari lokasi berpotensi tinggi ke pusat permintaan.
Proyek interkoneksi antara Laos-Thailand-Malaysia-Singapura menjadi contoh penting uji coba perdagangan listrik multilateral. Selain itu, pembangunan jaringan transmisi baru, penguatan distribusi, dan pengembangan penyimpanan energi menjadi agenda bersama. Namun, harmonisasi standar teknis dan regulasi masih membutuhkan waktu.
Investasi infrastruktur juga bergantung pada iklim kebijakan masing-masing negara. Regulasi yang jelas mengenai tarif, akses jaringan, dan mekanisme pembiayaan memengaruhi kecepatan pengembangan proyek. Karena itu, koordinasi regional perlu berjalan seiring dengan reformasi domestik.
Melihat tren saat ini, perbandingan kebijakan transisi energi di ASEAN menunjukkan kombinasi ambisi dan keterbatasan struktural. Permintaan energi yang terus naik, kebutuhan akses listrik yang merata, serta tekanan untuk menjaga keterjangkauan tarif menciptakan dilema kebijakan yang kompleks.
Meski begitu, peluang inovasi tetap besar. Penerapan teknologi digital untuk manajemen jaringan, pasar karbon yang lebih matang, serta kolaborasi publik-swasta bisa mempercepat dekarbonisasi. Selain itu, skema pembiayaan transisi yang adil berpotensi mempercepat pensiun dini pembangkit batubara tanpa mengorbankan stabilitas sistem.
Pada akhirnya, keberhasilan kawasan bergantung pada kemampuan setiap negara memperkuat kerangka regulasi, memperjelas peta jalan, dan memastikan partisipasi masyarakat serta pelaku usaha. Dengan mengoptimalkan perbandingan kebijakan transisi energi sebagai dasar belajar bersama, negara-negara ASEAN dapat mempercepat langkah menuju sistem energi yang lebih bersih, aman, dan berkelanjutan.
Sustainability Pioneers - Teknologi Direct Air Capture (DAC) menarik perhatian karena menjanjikan skala massal direct air untuk menyedot CO2 langsung…
Sustainability Pioneers - Sejumlah pelaku usaha mulai menyiapkan strategi cbam untuk indonesia demi menjaga ekspor ke Uni Eropa saat mekanisme…
Sustainability Pioneers - Dampak cuaca ekstrem terhadap pembangkit energi angin membuat output listrik bisa naik turun drastis dalam waktu singkat.…
Sustainability Pioneers - Investor kini menaruh perhatian serius pada ROI investasi real estat yang menggabungkan keuntungan finansial dan prinsip keberlanjutan.…
Sustainability Pioneers - Gelombang baru naratif dokumenter energi terbarukan menguat dalam dekade terakhir, didorong krisis iklim, tekanan publik, dan inovasi…
Sustainability Pioneers - Generasi muda inovasi hijau kian menonjol lewat aksi nyata, teknologi baru, dan pola pikir berkelanjutan yang menggeser…