
Sustainability Pioneers – Teknologi Direct Air Capture (DAC) menarik perhatian karena menjanjikan skala massal direct air untuk menyedot CO2 langsung dari atmosfer, tetapi biaya tinggi dan kebutuhan energi masih menjadi penghambat utama.
DAC bekerja dengan mengalirkan udara ambien melalui media penangkap, lalu memisahkan CO2 agar bisa disimpan permanen atau dimanfaatkan kembali. Pendekatan ini berbeda dari penangkapan emisi di cerobong pabrik, karena sumbernya bukan titik emisi, melainkan udara yang tersebar. Akibatnya, konsentrasi CO2 di udara relatif rendah, sehingga sistem harus memproses volume udara sangat besar.
Kebutuhan akan teknologi emisi negatif menguat karena banyak sektor sulit didekarbonisasi sepenuhnya. Penerbangan jarak jauh, produksi semen, dan sebagian proses industri berat masih menyisakan emisi residu. Di sisi lain, target iklim jangka menengah mengandalkan kombinasi pengurangan emisi dan penghilangan karbon. Karena itu, roadmap iklim banyak negara mulai memasukkan opsi penghilangan karbon, termasuk DAC, bioenergi dengan penangkapan karbon, dan restorasi ekosistem.
Meski begitu, DAC bukan “pengganti” pengurangan emisi. Teknologi ini paling masuk akal ketika dipakai untuk menutup emisi sisa yang benar-benar sulit dihilangkan. Dengan kerangka itu, diskusi soal skala massal direct air selalu kembali ke pertanyaan: seberapa cepat biaya turun, energi bersih tersedia, dan penyimpanan geologis siap menyerap CO2 dalam jumlah besar?
Untuk mencapai skala besar, DAC memerlukan tiga lapisan kesiapan sekaligus: teknologi penangkap yang efisien, pasokan energi rendah karbon, serta jaringan transportasi dan penyimpanan CO2. Pertama, material sorben atau pelarut harus tahan lama, murah, dan tetap stabil meski berulang kali menjalani siklus penyerapan dan pelepasan CO2. Kedua, proses regenerasi sorben membutuhkan energi, baik listrik untuk kipas dan pompa maupun panas untuk melepaskan CO2.
Selain itu, lokasi pabrik DAC perlu dipilih dekat sumber energi bersih dan dekat opsi penyimpanan permanen, seperti formasi batuan yang cocok untuk injeksi. Sementara itu, jika CO2 dipakai kembali untuk produk, pasar pemanfaatan tetap terbatas dibanding potensi volume penghilangan karbon yang dibutuhkan. Karena itu, banyak analis menilai penyimpanan geologis akan menjadi jalur utama ketika skala massal direct air benar-benar dikejar.
Titik krusial lainnya adalah faktor kapasitas. Jika satu fasilitas hanya menangkap ribuan hingga puluhan ribu ton CO2 per tahun, maka perlu ratusan hingga ribuan fasilitas untuk mencapai jutaan hingga miliaran ton. Setelah itu, tantangan beralih ke manufaktur: komponen, material kimia, sensor, dan sistem pemrosesan harus diproduksi massal seperti industri energi lainnya.
Biaya DAC dipengaruhi oleh investasi awal (CAPEX), biaya operasi (OPEX), harga energi, serta umur pakai material. Hari ini, banyak proyek masih berada pada fase awal komersialisasi. Akibatnya, biaya per ton cenderung tinggi karena skala pabrik kecil, rantai pasok belum matang, dan pengalaman operasional masih terbatas.
Namun, pola penurunan biaya biasanya mengikuti kurva pembelajaran. Ketika kapasitas terpasang bertambah, produsen bisa menstandarkan desain, mempercepat perakitan, dan menekan biaya material. Selain itu, peningkatan efisiensi sorben dan integrasi panas buangan dapat menurunkan konsumsi energi per ton CO2. Di sisi lain, listrik terbarukan yang makin murah dan stabil juga bisa mengubah struktur biaya secara signifikan.
Jika pemerintah memberi sinyal pasar yang jelas—misalnya lewat insentif pajak, kontrak pembelian penghilangan karbon, atau standar emisi—maka investasi pabrik dan infrastruktur bisa lebih cepat. Meski begitu, skala massal direct air tetap membutuhkan pembuktian bahwa biaya bisa turun secara konsisten tanpa mengorbankan keandalan operasional dan verifikasi penghilangan karbon.
Baca Juga: penjelasan IEA tentang Direct Air Capture
Beberapa fasilitas DAC sudah beroperasi dan ada pula yang sedang dibangun, biasanya terhubung dengan penyimpanan geologis atau pemanfaatan CO2. Pelajaran utama dari proyek awal adalah pentingnya stabilitas proses, ketersediaan energi bersih, serta pengukuran dan pelaporan yang transparan. Verifikasi menjadi isu besar karena pembeli kredit penghilangan karbon menuntut kepastian bahwa CO2 benar-benar ditangkap dan disimpan jangka panjang.
Selain itu, proyek awal membantu mengungkap “biaya tersembunyi”, seperti kebutuhan pemeliharaan, degradasi material, dan downtime. Dengan data tersebut, pengembang bisa memperbaiki desain modul, memilih material yang lebih tahan, dan mengoptimalkan siklus operasi. Setelah itu, pendekatan modular berpotensi mempercepat replikasi pabrik, mirip dengan strategi di pusat data atau pabrik baterai.
Di sisi lain, skala massal direct air juga menuntut standar akuntansi karbon yang kuat lintas negara. Tanpa metodologi yang selaras, pasar akan sulit tumbuh karena perbedaan definisi “penghilangan” dan perbedaan aturan durabilitas penyimpanan.
Menentukan waktu pasti selalu sulit, tetapi banyak skenario menempatkan percepatan terbesar pada dekade 2030-an. Pada fase ini, pabrik generasi kedua dan ketiga diharapkan memanfaatkan desain yang lebih efisien, material lebih murah, dan otomasi manufaktur. Jika kebijakan mendukung dan proyek infrastruktur penyimpanan berkembang, kapasitas global dapat meningkat dari puluhan ribu ton menjadi jutaan ton per tahun.
Untuk mencapai pemakaian luas, perlu terjadi kombinasi: biaya turun, listrik bersih melimpah, dan izin penyimpanan dipercepat tanpa mengurangi keamanan. Selain itu, pasar pembelian penghilangan karbon harus lebih stabil. Kontrak jangka panjang dari industri yang punya kewajiban dekarbonisasi dapat membantu pendanaan, sementara dukungan publik bisa menutup kesenjangan biaya pada fase awal.
Meski begitu, skala massal direct air pada level ratusan juta ton per tahun kemungkinan baru realistis mendekati 2040-an, bergantung pada kemajuan teknologi dan keputusan investasi infrastruktur. Bahkan pada skala tersebut, DAC tetap harus berjalan berdampingan dengan pengurangan emisi agresif, elektrifikasi, efisiensi energi, dan perubahan sistem industri.
Ada beberapa langkah yang paling sering disebut untuk mendorong pasar. Pertama, pemerintah bisa menetapkan skema insentif berbasis hasil, sehingga pembayaran terjadi ketika CO2 benar-benar ditangkap dan disimpan. Kedua, pembangunan “hub” penangkapan dan penyimpanan karbon dapat menurunkan biaya karena berbagai proyek berbagi pipa dan lokasi penyimpanan.
Ketiga, standar MRV (measurement, reporting, verification) harus tegas, sederhana, dan bisa diaudit. Tanpa itu, kepercayaan pasar mudah runtuh. Keempat, dukungan riset untuk material sorben, integrasi panas, dan desain kipas berdaya rendah dapat memberi dampak langsung pada biaya operasi. Terakhir, transparansi data operasional dari proyek awal akan mempercepat kurva pembelajaran industri.
Pada akhirnya, skala massal direct air akan bergantung pada kemampuan menekan biaya tanpa mengalihkan fokus dari pengurangan emisi. Jika kebijakan, energi bersih, dan infrastruktur penyimpanan bergerak seirama, teknologi ini bisa menjadi salah satu alat penting untuk menutup emisi residu dan memperkuat target iklim global.
Untuk pembaca yang mengikuti perkembangan industri ini, skala massal direct air juga akan terlihat dari indikator sederhana: kapasitas pabrik yang terus naik, kontrak jangka panjang yang makin banyak, dan proyek penyimpanan yang makin rutin mendapatkan izin serta pendanaan.
Di tengah percepatan inovasi, diskusi publik yang jernih tetap dibutuhkan agar skala massal direct air berkembang sebagai solusi tambahan yang terukur, bukan janji yang menggantikan langkah pengurangan emisi.
Selain itu, kolaborasi lintas sektor—energi, industri kimia, konstruksi, dan pembiayaan—akan menentukan apakah skala massal direct air menjadi praktik umum atau tetap niche.
Dengan peta jalan yang disiplin, skala massal direct air berpeluang masuk fase komersialisasi lebih luas pada 2030-an, lalu tumbuh cepat ketika biaya dan infrastruktur mencapai titik balik.
Dalam kerangka itu, skala massal direct air pada akhirnya ditentukan oleh satu hal: seberapa cepat dunia membangun energi bersih dan penyimpanan karbon yang aman dalam skala industri.
Sustainability Pioneers - Dokumenter terbaru menempatkan transisi energi di ASEAN sebagai fokus utama, menyoroti upaya kolaborasi regional dalam mengurangi ketergantungan…
Sustainability Pioneers - Proyek panel surya terapung di Danau Jawa mulai masuk tahap komisioning, menandai babak baru pemanfaatan energi surya…
Sustainability Pioneers - Pemerintah dan pelaku industri menempatkan energi terbarukan ketahanan energi sebagai fokus utama untuk mengurangi ketergantungan pada impor…
Sustainability Pioneers - Masa depan energi laut semakin diperhitungkan ketika gelombang dan arus laut dinilai mampu menyumbang listrik bersih dalam…
Sustainability Pioneers - Percepatan perbandingan kebijakan transisi energi di negara ASEAN kini menjadi sorotan karena kawasan ini berhadapan dengan lonjakan…
Sustainability Pioneers - Sejumlah pelaku usaha mulai menyiapkan strategi cbam untuk indonesia demi menjaga ekspor ke Uni Eropa saat mekanisme…