sustainabilitypioneers – Rupiah kembali mengalami tekanan hebat dalam perdagangan akhir pekan yang berlangsung pada Jumat 29 Agustus 2025. Melemahnya nilai tukar mata uang Garuda disebabkan oleh kombinasi faktor internal dan eksternal yang memunculkan ketidakpastian di pasar keuangan. Salah satu faktor utama datang dari meningkatnya aksi demonstrasi di sejumlah daerah yang berujung pada kerusuhan dan kabar korban jiwa. Tekanan ini diperparah oleh isu sensitif seputar tunjangan perumahan anggota DPR yang menuai protes luas dari masyarakat. Keadaan sosial dan politik dalam negeri yang memanas sejak Kamis malam telah memicu gejolak di pasar uang. Akibatnya, sentimen negatif mendominasi dan menyebabkan rupiah anjlok tajam. Dalam penutupan perdagangan Jumat, rupiah merosot sebanyak 147 poin ke level 16.499 per dolar AS, melanjutkan pelemahan sebelumnya sebesar 160 poin. Kondisi ini menunjukkan betapa rentannya nilai tukar rupiah terhadap faktor-faktor sosial politik domestik yang belum kunjung mereda.
Rupiah tidak hanya menghadapi tekanan dari dalam negeri namun juga diterpa oleh arus informasi global yang kurang bersahabat. Data ekonomi dari Amerika Serikat memperlihatkan pertumbuhan yang jauh melampaui ekspektasi pasar. Produk Domestik Bruto kuartal kedua tahun 2025 tercatat tumbuh 3,3 persen secara tahunan, mengalahkan proyeksi sebesar 3,1 persen. Selain itu, penurunan klaim pengangguran menjadi 229 ribu turut menegaskan bahwa pasar tenaga kerja AS tetap solid dan mampu memberikan dorongan kuat terhadap dolar. Ketahanan ekonomi AS yang tinggi menjadikan dolar sebagai instrumen lindung nilai yang lebih menarik dibanding mata uang negara berkembang seperti rupiah. Di tengah ketidakpastian domestik dan membaiknya kondisi eksternal untuk dolar, rupiah pun menjadi korban tekanan jual dari investor asing. Risiko geopolitik seperti ketegangan di Ukraina serta langkah tarif tambahan terhadap India juga memperkeruh sentimen global yang turut berdampak pada arus modal keluar dari Indonesia.
“Baca juga: Jakarta Dilanda Chaos Akibat Demo, Ini Antisipasi KAI Jaga KRL Tetap Aman”
Rupiah yang terus melemah berimbas langsung terhadap nilai tukar di bank-bank besar Indonesia. Pada Sabtu pagi 30 Agustus 2025, BCA mencatat kurs beli di angka 16.400 per dolar dan kurs jual 16.500 per dolar. Sementara itu, BRI menetapkan kurs beli di 16.378 dan kurs jual di 16.579 per dolar. Di BNI, kurs beli mencapai 16.462 dan kurs jual di angka 16.477 per dolar AS. Perbedaan tipis antar bank dalam menetapkan kurs jual dan beli menunjukkan tingginya volatilitas pasar serta upaya bank-bank untuk menyesuaikan diri secara cepat terhadap kondisi yang sangat dinamis. Nilai tukar tersebut mencerminkan realitas bahwa tekanan pada rupiah bersifat luas dan tak terbatas pada pasar antarbank saja. Konsumen serta pelaku bisnis yang melakukan transaksi valuta asing pun harus menanggung beban akibat pelemahan ini. Kondisi ini akan menambah tekanan pada sektor impor dan bisa berdampak pada harga barang-barang kebutuhan pokok yang bergantung pada dolar.
“Simak juga: Terungkap! Inilah Wajah 7 Anggota Brimob yang Diduga Lindas Driver Ojol hingga Tewas”
Dari sisi kebijakan moneter, perkembangan terbaru dari Federal Reserve Amerika Serikat turut memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah. Gubernur The Fed Christopher Waller dikabarkan mendukung rencana penurunan suku bunga pada pertemuan bulan September. Hal ini dipandang sebagai langkah antisipatif untuk menghindari pelambatan ekonomi yang lebih parah. Namun, di sisi lain, pernyataan Gubernur Lisa Cook yang tengah terlibat konflik hukum dengan Presiden AS Donald Trump menciptakan ketidakpastian terkait independensi The Fed. Meskipun demikian, pasar global merespons secara positif terhadap potensi pelonggaran kebijakan moneter AS. Dolar justru semakin menguat karena prospek pertumbuhan yang tetap terjaga dan tingkat pengangguran yang menurun. Rupiah pun semakin terbebani karena selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat berpotensi menyempit. Ketika pasar menilai dolar sebagai aset aman, aliran modal akan mengalir kembali ke negeri Paman Sam, meninggalkan tekanan besar terhadap mata uang negara berkembang termasuk rupiah.
Situasi geopolitik internasional yang belum menunjukkan tanda-tanda stabilitas menjadi salah satu faktor eksternal yang memperberat beban rupiah. Harapan terhadap perundingan damai antara Ukraina dan Rusia semakin menipis meski ada inisiatif dari Presiden Donald Trump yang menawarkan pertemuan trilateral. Namun belum ada kepastian soal waktu maupun tempat pertemuan tersebut. Serangan Rusia ke Kyiv kembali memakan korban dan merusak fasilitas diplomatik milik Uni Eropa dan British Council. Ketegangan ini memperburuk sentimen global dan meningkatkan permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS. Di sisi lain, India yang terus mengimpor minyak mentah dari Rusia menghadapi sanksi ekonomi berupa tarif tambahan hingga 50 persen. Langkah ini menjadi bagian dari tekanan internasional terhadap Rusia dan sekutunya. Rupiah pun tidak luput dari pengaruh ketegangan ini karena pasar global merespons negatif setiap eskalasi konflik, yang pada akhirnya memicu arus modal keluar dari Indonesia dan memperlemah nilai tukar rupiah di pasar global.
sustainabilitypioneers – Jakarta kembali diwarnai aksi demonstrasi besar-besaran yang digelar ribuan pengemudi ojek online pada Jumat pagi. Unjuk rasa ini…
sustainabilitypioneers – 28 Agustus Demo Buruh yang digelar di depan Gedung DPR MPR RI Jakarta Pusat berubah menjadi momen penuh ketegangan.…
sustainabilitypioneers – Bahlil Lahadalia selaku Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan bahwa mulai 2026 masyarakat hanya bisa membeli elpiji 3…
sustainabilitypioneers – Gedung DPR RI menjadi sorotan utama setelah ribuan massa melakukan aksi unjuk rasa pada 25 Agustus 2025. Aksi ini…
sustainabilitypioneers – DPR RI Dorong RUU EBET menjadi sorotan utama dalam langkah besar menuju transisi energi di Indonesia. Rancangan undang-undang ini…
sustainabilitypioneers – BLK Akan Jadi 'Green Hub' Nasional setelah Menteri Ketenagakerjaan Yassierli memaparkan strategi revolusioner pemerintah dalam mencetak tenaga kerja berbasis…